Rabu, 26 November 2008

Memperbahrui dan Meluruskan Niat dalam Beribadah

Dari Amiril MukmininAbu Hafsh Umar bin Khattab r.a, ia berkata: Saya mendengar Raslullah SAW. Bersabda: “Bahwasanya semua amal itu tergantung niatnya dan bahwasanya apa yang diperoleh oeh seseorang adalah sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barang siapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu akan diterima oleh Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrah karena ...

mencari dunia atau wanita yang akan dinikahinya maka hijrahnya itu sebatas pada apa yang diniatkannya”. (Diriwayatkan oleh Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari, da Abul Husain Muslim bin Al Hujjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi, di dalam kedua kitab mereka yang paling sahih di antar kitab-kitab hadits). Dikutip dari “Terjemah Hadits Arba’in Nawawi”.

Dikutip dari “Terjemah RIYADHUS SHOLIHIN” jilid I halaman 1 – 14 dalam fasal:
“IKHLAS DAN NIAT DALAM SEGALA PERILAKU KEHIDUPAN”

Allah Ta’ala berfirman:

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) Agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al-Bayyinah:5)

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaanmulah yang dapat mencapainya.”(Al-Hajj: 37)

“Katakanlah jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkan, pasti Allah mengetahuinya.”(Al-Imran:29)

1. Dari Amiril Mukminin Abu Hafsh Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Quth bin Razah bin Adiy bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib Al-Quraisyiy Al-Adawiy ra., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Setiap amal disertai dengan niat. Setiap amal seseoarang tergantung dengan apa yang diniatkannya. Karena itu, siapa saja yang hijrahnya (dari makkah ke madinah) karena Allah dan rasul-Nya (melakukan hijrah demi mengagungkan dan melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya), maka hijrahnya tertuju kepada Allah dan Rasul-Nya (diterima dan diridhai Allah). Tetapai siapa saja yang melakukan hijrah demi kepentingan dunia yang akan diperolehnya atai karena perempuan yang akan dinikahinya, maka hijrahnya sebatas sesuatu yang menjadi tujuannya ( tidak diterima oleh Allah).”(HR.Bukhari dan Muslim)
2. Dari ummul mukminin ummu abdillah aisyah ra., ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Ada sekelompok pasukan yang akan menyerang ka’bah, namun ketikan mereka sampai ditanah lapang, maka mereka dibinasakan dari muka sampai yang paling belakang. Aisyah bertanya: wahai rasulullah bagaimana mereka dibinasakan dari depan sampai yang paling belakang, padahal diantara mereka ada orang berbelanja serta ada pula orang yang bukan dari golongan mereka?. Beliau menjawab: Mereka akan dibinasakan dari depan sampai yang paling akhir, kemudian mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niatnya masing-masing.”(HR.Bukhari dan Muslim)
3. Dari aisyah ra. Ia berkata: nabi saw bersabda: “Tidak ada hijrah lagi setelah dibukanya kota makkah, tetapi yang ada adalah jihad (berjuang di jalan Allah) dan niat untuk selalau berbuat baik. Oleh karena itu, jika kalian dipanggil untuk berjuang, maka berangkatlah!”(HR.Bukhari dan Muslim).
4. Dari abu abdillah jabir bin abdillah al anshoriy ra. Ia berkata: Kami bersama Rasulullah dalam salah satu peperangan, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnay di madinah ada beberapa orang, apabila kalian menempuh perjalanan atau menyeberangi lembah, mereka senantiasa mengikuti, sedangkan yang menghalangi mereka hanyalah sakit.” Dalam salah satu riwayat, disebutkan Raslullah saw bersabda: “Melainkan mereka selalu menyertai kalian di dalam mencapai pahala.” (HR.Muslim)
5. Dari anas ra ia berkata: Kami bersama-sama dengan nabi saw kembali dari peperangan tabuk, kemudian beliau menjelaskan: “Sesungguhnya masih ada beberapa kaum atau orang yang kami tinggalkan di madinah, mereka senantiasa menyertai kita, baik sewaktu keluar masuk pedusunan maupun sewaktu menyeberangi lembah, yang menghalangi mereka hanya udzur.”(HR. Bukhari)
6. Dari abu yazd ma’an bin yazid al akhnas ra ia berkata: Ayahku yazid biasa mengeluarkan beberapa dinar untuk disedekahkan dan dipercayakan kepada seseorang di masjid untuk membaginya. Kemudian aku pergi ke masjid untuk meminta dinar itu, dan menunjukkan kepada ayahku, lalu ayahku berkata: “dem Allah, dinar itu tidak aku sediakan untukmu.” Peristiwa itu kemudian aku sampaikan kepada rasulullah saw maka beliau bersabda: “Bagimu apa yang kamu niatkan hai yazid, dan bagimu apa yang kamu ambil hai ma’an.”(HR. Bukhari)
7. Dari abu ishaq sa’ad bin abi waqqas malik bin uhaib bin abdi manaf bin zuhrah bin kilab bin murrah bin ka’ab bin lu’ay al quraisyiy az zuhriy ra (beliau salah seorang dar sepuluh oran gyang dijamin masuk surga), ia berkata: ”Rasulullah saw menjenguk saya ketika haji wada’, karena sakit keras, kemudian saya berkata: “Wahai Raslullah, sesungguhnya sakit saya sangat keras sebagaimana yang engkau lihat, sedangkan saya mempunyai harta yang cukup banyak dan yang mewarisi hanyalah seorang anak perempuan. Bolehkan saya sedekahkan dua pertiga dari harta saya itu ?, beliau menjawab:”Tidak boleh .” Saya bertanya lagi:”Bagaimana kalau separuhnya ?”, beliau menjawab tidak boleh.” Saya bertanya lagi:”Bagaimana kalau sepertiganya?” Beliau menjawab:”Sepertiga itu banyak dan cukup besar. Sesungguhnya jika kamu meninggalkan ahli warismu kaya itu lebih baik daripada meniggalkan mereka dalam keadaan miskin, sehingga mereka terpaksa meminta-minta kepasa sesama manusia. Sesungguhnya apa yang kamu nafkahkan dengan maksud untuk mencari ridha Allah pasti kamu diberi pahala, termasuk apa yang dimakan oleh isterimu. Kemudian saya bertanya:’Wahai rasulullah, apakah saya akan segera berpisah dengan kawan-kawanku ?” Beliau menjawab:”Sesungguhnya kamu belum akan berpisah. Kamu akan masih menambah amal yang kamu niatkan untuk mencari ridha Allah, sehingga akan bertambah derajat dan keluhuranmu. Dan barangkali kamu akan segera meninggal setelah sebagian orang dapat mengambil manfaat darimu, sedangkan yang lain merasa dirugikan olehmu. Seraya berdoa abu ishak berdoa:”Ya Allah, mudah-mudahan shahabatku dapat melanjutkan hijrah mereka dan janganlah engkau mengembalikan mereka ketempat yang mereka tinggalkan, tetapi kasihan si sa’ad binkaulah yang selalu disayangkan oleh rasulullah karena ia mati di makkah.”(HR.Bukhari dan Muslim)
8. Dari abu hurairah abdurrahman bin shakhr ra ia berkata: rasulullah saw bersabda:”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada tubuh kalian, tetapi Dia memandang kepada hati kalian.”(HR. Muslim)
9. Dari abu musa abdullah bin qais al asy’ariy ra ia berkata: Rasulullah saw pernah ditanya, manakah yang termasuk berperang di jalan Allah ? Apakah berperang karena keberanian, kesukuan, ataukah berperang karena ria? Rasulullah saw menjawab:”Siapa saja yang berperang agar kalimat Allah terangkat, maka itulah perang dijalan Allah.”(HR.Bukhari dan Muslim)
10. Dari abu bakrah nufa’i bin harits ats- tsaqafiy ra ia berkata: Nabi saw bersabda:”Apabila ada dua orang islam yang bertengkar dengan pedangnya, maka orang yang membunuh dan yang terbunuh sama-sama berada dalam neraka.” Saya bertanya: Wahai raslullah, sudah sewajarnya yang membunuh masuk neraka, tetapi mengapa yang terbunuh juga masuk neraka?” Beliau menjawab:”Karena ia sangat berambisi untuk membunuh kawannya.”(HR.Bukhari dan Muslim)
11. Dari abu hurairah ra ia berkata: raslullah saw bersabda:”Salat seseorang dengan berjamaah, lebih banyak pahalanya daripada salat sendirian di pasar atau dirumahnya, selisih dua puluh derajat. Karena seseorang yang telah menyempurnakan wudlunya, kemudian pergi ke masjid dan hanya bertjuan untuk salat, maka setiap langkah diangkatlah satu derajat dan diampuni satu dosa, sampai ia masuk masjid. Apabila ia berada dalam masjid ia dianggap mengerjakan salat selama menunggu dilaksanakannya. Para malaikat mendoakan:”Ya Allah kasihanilah dia, ampunilah dosa-dosanya, terimalah tobatnya selama tidak berbuat gaduh dan berhadats.”(HR.Bukhari dan Muslim)

Selanjutnya,...

Thufeil “Amr Ad-Dausi : “ Suatu Fitrah Yang Cerdas”

Di bumi Daus, dari keluarga yang mulia dan terhormat, muncullah tokoh kita ini ….. Ia dikaruniai bakat sebagai penyair, hingga nama dan kemahirannya termasyhur dikalangan suku-suku. Di musim ramainya pekan ‘Ukadh, tempat berkumpul dan berhimpunnya manusia, untuk mendengar dan menyaksikan penyair-penyair arab yang datang berkunjung dari seluruh pelosok serta untuk menonjolkan dan membanggakan penyair masing-masing, makan Thufeil mangambil kedudukannya dibarisan terkemuka…………..Walaupun bukan pada musim ’Ukadh, ia sering pula pergi ke Makkah………

Pada suatu ketika, saat ia berkunjung ke kota suci itu, Rasulullah telah mulai melahirkan da’wahnya…………. Orang-orang quraisy takut kalau-kalau Thufeil menemuinya dan masuk Islam, hingga merupakan bencana besar bagi Quraisy dan berhala-berhala mereka……

Oleh sebab itu mereka melingkunginya selalu dan menyediakan segala kesenangan dan kemewahan untuk melayani dan menerima kedatangannya sebagai tamu, lalu menkut-nakutinya agar tidak berjumpa dengan Rasulullah saw, katanya: “Muhammad memiliki ucapan laksana sihir, hingga dapat mencerai-beraikan anak dari bapak dan seseorang dari saudaranya, serta suami dari istrinya………….! Dan sesungguhnya kami ini cemas terhadap dirimu dan kaummu dari kejahatannya, maka janganlah ia dibawa bicara dan jangan dengarkan apa katanya ….!”.

Dan marilah kita dengarkan Thufeil menceritakan sendiri kisahnya, katanya: “Demi Allah, mereka selalu membuntutiku, hingga aku hampir saja membatalkan maksudku untuk menemui dan mendengar ucapannya ………Dan ketika aku pergi ke ka’bah, kututup telingaku dengan kapas, agar bila ia berkata, aku tidak mendengar perkataannya …Kiranya ia kudapati sedang sholat dekat ka’bah, maka aku berdiri didekatnya, taqdir Allah menhendaki agar aku mendengarkan sebahagian apa yang dibacanya, dan terdengarlah olehku perkataan yang baik ……

Lalu kataku kepada diriku: “Wahai malangnya ibuku kehilangan daku …….! Demi Allah, aku ini seorang yang pandai dan jadi penyair, dan mampu membedakan mana yang baik dari yang buruk! Maka apa salahnya jika aku mendengarkan apa yang diucapkan oleh laki-laki itu? Jika yang dikemukakannya itu barang baik, dapatlah keterima, dan seandainya jelek, dapat pula ketinggalkan ……….Kutunggu sampai ia berpaling hendak pulang kerumahnya, lalu kuikuti hingga ia masuk rumah, maka kuiringkan dari belakang dan kukatakan kepadanya: “Wahai Muhammad! Kaummu telah menceritakan kepadaku bermacam-macam tentang dirimu ! Dan demi Allah mereka selalu menkut-nakutiku terhadap urusanmu, hingga kututupi telingaku dengan kapas agar tidak mendengar perkataanmu …….. Tetapi iradat Allah menhendaki agar aku mendengarnya, dan terdengarlah olehku ucapan yang baik, maka kemukakanlah padaku apa yang menjadi urusanmu itu…….!” Rasulpun mengemukakan padaku terperinci tentang agama islam dan dibacakannya al qur’an ………Sungguh! Demi Allah, tak pernah kudengar satu ucapanpun yang lebih baik dari itu, atau suatu urusan yang lebih benar dari itu …….! Maka masuklah aku kedalam islam, dan kuucapkan syahadat yang haq, lalu kataku: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku ini seorang yang ditaati oleh kaumku, dan sekarang aku akan kembali kepada mereka, serta akan menyeru mereka kepada islam. Maka doakanlah kepada Allah agar aku diberi-Nya suatu tanda yang akn menjadi pembantu bagiku mengenai soal yang kuserukan kepada mereka itu. Maka sabda Rasulullah saw: “Ya Allah ! Jadikanlah baginya suatu tanda….!

Dalan kitab suci-Nya Allah Ta’ala telah memuji orang-orang yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti yang terbaik diantaranya……..Nah sekarang kita bertemu dengan salah seorang diantara mereka itu …………dan ia merupakan suatu gambaran yang tepat mengenai fittrah yang cerdas………!

Demi telinganya mendengar sebagian ayat-ayat mengenai petunjuk dan kebaikan yang diturunkan Allah atas kalbu hamba-Nya, maka seluruh pendengaran dan seluruh hatinya terbuka selebar-lebarnya, dan diulurkannya tangannya untuk bai’at kepada Rasulnya……….

Dan tidak hanya sampai disana, tetapi dengan secepatnya dibebaninya dirinya dengan tanggung jawab menyeru kaum dan keluarganya kepada agama yang haq dan jalan yang lurus ini …..!”.

Oleh sebab itu, baru saja ia sampai dirumah dan kampung halamannya Daus, dikemukakannyalah kepada bapaknya ‘aqidah dan keinginan yang terkandung dalam hatinya, dan diserunya ia kepada islam, yakni setelah menceritakan perihal Rasul yang menyebarkan agama itu, tentang kebesaran, kesucian, amanah, dan ketulusan serta keta’atannya kepada Allah Rabbul ‘Alamin……

Dan pada waktu itu juga bapaknya masuk islam. Lalu ia beralih kepada ibunya, yang juga menganut islam. Kemudian kepada istrinya yang mengambil tindakan yang serupa. Dan tatkala hatinya menjadi tenteram karena islam telah meliputi rumahnya, ia pun berpindah tempat kepada kaum keluarga, bahkan kepada seluruh penduduk Daus. Tetapi tak seorangpun di antara merekan yang memenuhi seruannya memeluk islam, kecuali Abu Hurairah r.a………….

Kaumnya itu menghinakan dan memencilkannya, hingga akhirnya hilanglah kesabarannya terhadap mereka. Maka dinaikinya kendaraannya menempuh padang pasir dan kembali kepada Rasulullah saw mengadukan halnya dan membekali diri dengan ajaran-ajarannya……….

Dan tatkala tibalah ia di Makkah, segeralah ia kerumah Rasul, dibawa oleh hatinya yang rindu. Katanya kepada nabi: “Wahai Rasulullah ……..! Saya kelabakan menghadapi riba dan perzinahan yang merajalela di desa Daus …! “.

Tetapi alangkan terpesonanya Thufeil ketika dilihatnya Rasulullah mengangkatkan kedua tangannya ke langit serta katanya: “Ya Allah, Tunjukilan orang-orang daus dan datangkanlah mereka kesini dengan memeluk islam ..!” Lalu sambil berpaling kepada Thufeil, katanya: “Kembalilah kamu kepada kaummu, serulah mereka dan bersikap lunak-lembutlah kepada mereka…..!”

Peristiwa yang disaksikan ini merupakan jiwa Thufeil dengan keharuan dan mengisi ruhnya dengan kepuasan, lalu dipujinya Allah setinggi-tingginya yang telah menjadikan Rasul insan pengasih ini sebagai guru dan pembimbingnya dan menjadikan islam sebagai agama dan tempat berlindungnya……..

Maka bangkitlah ia pergi kembali ke kampung halaman dan kaumnya. Dan disana ia terus mengajak mereka kepada islam secara lunak lembut sebagai dipesankan oleh Rasulullah saw.

Dalam pada itu, selama tenggang waktu yang dilaluinya di tengah-tengah kaumnya, Rasulullah telah hijrah ke Madinah, dan telah terjadi perang Badar, Uhud dan Khandak. Tiba-tiba ketika Rasulullah sedang berada di Khaibar, yakni setelah kota itu deserahkan Allah ke tangan Muslimin, satu rombongan besar yang terdiri dari delapan puluh keluarga Daus datang menghadap Rasulullah sambil membaca tahlil dan takbir. Mereka lalu duduk di hadapannya mengangkat bai’at secara bergantian.

Dan tatkala selesai peristiwa mereka yang bersejarah dan upacara bai’at yang diberkahi itu, Thufeil pergi duduk seorang diri, merenungkan kembali kenagan-kenangan lamanya dan mengira-ngirakan langkah yang akan diambilnya untuk masa mendatang……..


Selanjutnya,...

MUSH’AB BIN UMAIR : Duta Islam Yang Pertama

Seorang remaja Quraisy terkemuka, seorang yang paling ganteng dan tampan, penuh dengan jiwa dan semangat kepemudaan. Seorang remaja kota Makah yang mempunyai nama paling harum.

Khunas binti Malik yakni ibunda Mush’ab, seorang yang berkepribadian kuat dan pendiriannya tak dapat ditawar atau diganggu gugat. Ia wanita yang disegani bahkan ditakuti.


Ketika Mush’ab menganut islam, tiada satu kekuatanpun yang ditakuti dan dikhawatirkannya selain ibunya sendiri, bahkan walau seluruh penduduk Makah beserta berhala-berhala para pembesar dan padang pasirnya berubah rupa menjadi suatu kekuatan yang menakutkan yang hendak menyerang dan menghancurkannya, tentulah Mush’ab akan menganggapnya enteng.

Akhir pertemuan Mush’ab dengan ibunya, ketika perempuan itu hendak mencoba mengurungnya lagi sewaktu ia pulang dari Habsyi. Ia pun bersumapah dan menyatakan tekadnya untuk membunuh orang-orang suruhan ibunya bila rencana itu dilakukan. Karena sang ibu telah mengetahui kebulatan tekad puteranya yang telah mengambil satu keputusan, tak ada jalan lain baginya kecuali melepasnya dengan cucuran air mata, sementara Muh’ab mengucapkan selamat berpisah dengan menangis pula. Ibunya berkata: ” Pergilah sesuka hatimu ! Aku bukan ibumu lagi ”. Maka Mush’ab pun menjawabnya: “ Wahai bunda ! Telah anakda sampaikan nasihat kepada bunda, dan anakda menaruh kasihan kepada bunda. Karena itu sakasikanlah bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya “. Maka dengan nada marah dijawab oleh ibunya: “ Demi bintang ! Sekali-kali aku takkan masuk kedalam Agamamu itu. Otakku bisa rusak, dan buah pikiranku takkan diindahkan orang lagi”.

Bersabda Rasulullah: “ Dahulu saya lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya “.

Suatu saat Muah’ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas maha penting saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasulullah ke Madinah untuk mengajarkan seluk-beluk agama kepada orang-orang anshar yang telah beriman dan bai’at kepada Rasulullah di Bukit ‘Aqabah. Di samping itu mengajak orang-orang lain untuk menganut agama Allah, serta mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijratul Rasul sebgai peristiwa besar.

Mush’ab memilkul amanat itu dengan bekal karunia Allah kepadanya, berupa fikiran yang cerdas dan budi yang luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga berduyu-duyun masuk Islam.

Suatu hari ketika ia sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiba-tiba disergap Usaid bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush’ab dengan menyentakkan lembingnya. Bagaikan singa hendak menerkam, Usaid berdiri di depan Mush’ab dan As’ad bin Zararah, bentaknya: “ Apa maksud kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami ? Tinggalkan segera tempar ini, jika tak ingin segera nyawa kalian melayang ! “. Seperti tenang dan mantapnya samudra dalam ………, laksana terang dan damainya cahaya fajar …….. terpancarlah ketulusan hati “ Mush’ab yang baik “ , dan bergeraklah lidahnya mengeluarkan ucapan halus, katanya: “ Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu ? Seandainya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu ! “. Tidak beberapa lama kemudian Usaid berujar: “ Sekarang saya insyaf “ , lalu ia menjatuhkan lembingnya ke tanah dan duduk mendengarkan. Dan belum lagi Mush’ab selesai dari uraiannya Usaid pun berseru kepadanya dan kepada shahabatnya: “Alangkah indah dan benarnya ucapan itu……….! Dan apakah yang harus dilakukan oleh orang yang hendak masuk agama ini ? “. Maka sebagai jawabannya gemuruhlah suara tahlil, serempak seakan hendak menggoncangkan bumi. Kemudian ujar Mush’ab: “ Hendaklah ia mensucikan diri, pakaian dan badannya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah “. Beberapa lama Usaid meninggalkan mereka, kemudian kembali sambil memeras air dari rambutnya, lalu ia berdiri sambil menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammah itu utusan Allah ……

Hal besar lainnya dari Mush’ab bin Umair adalah apa yang dituturkan oleh Ibnu Saad: “ Diceritakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-‘Abdari dari bapaknya, ia berkata: “Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di perang uhud. Tatkala barisan kaum muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seorang musuh berkuda, Ibnu Qumaiah namanya, lalu menebas tangannya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan: “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul “. Maka dipegangnya panji dengan tangan kirinya sambil membungkuk melinduginya. Musuhpun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mush’ab membungkuk kearah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada sambil mengucapkan: “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang rasul dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa rasul “. Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mush’ab pun gugur dan bendera jatuh “.

Diceritikan dari Khabbah ibnul ‘Urat bahwa pada saat Rasulullah bersama para shahabatnya datang meninijau medan pertempuran uhud untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada dan sampailah ditempat dimana terbaringnya jasad Mush’ab: “Kami hijrah dijalan Allah bersama Rasulullah SAW dengan mengharap keridloan-Nya hingga pastilah sudah pahala desisis Allah. Diantara kami ada yang telah berlalu sebelum menikmati pahalanya di dunia ini sedikitpun juga. Diantaranya ialah Mush’ab bin Umair yang tewas diperang uhud. Tak sehelai pun kain untuk menutupinya selain sehelai burdah. Andainya ditaruh diatas dikepalanya, terbukalah kedua kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan kakinya, terbukalah kepalanya. Maka sabda Rasulullah SAW: “Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutupilah dengan rumput idzkir !”.

(Diambil dari buku “KARAKTERISTI K PERIHIDUP 60 SHAHABAT RASULLULLAH” karya KHALID MUHAMMAD KHALID setakan CV. DIPONEGORO BANDUNG)


Selanjutnya,...