Sabtu, 03 Januari 2009

MENIKAHKAH NABI ISA AS

Sebuah pertanyaan ‘radikal’ yg membuatku cukup terkejut, dilontarkan dalam sebuah pengajian yg baru-baru ini aku hadiri. Pertanyaan ini diajukan dalam sebuah sesi pertanyaan di pengajian, yg sempat menyinggung Da Vinci Code, sebuah buku laris karangan Dan Brown, yg dianggap melecehkan dan menelanjangi agama Kristen.

Kembali ke masalah pokok.

Selama beberapa waktu, pertanyaan ini mengusik benakku…bahkan melebar…jika Nabi Isa as sudah menikah, siapakah istrinya? Lalu, apakah beliau mempunyai anak? Jika beliau mempunyai istri dan anak, bagaimana kehidupannya? Kapan istri dan anaknya meninggal? Apakah istri dan anaknya termasuk golongan yg menganggap Nabi Isa as sebagai Tuhan (seperti yg diyakini kaum Kristen) ataukah menganggapnya sebagai nabi semata (seperti yg diyakini kaum Muslim)? Atau jangan-jangan anak dan istrinya malah termasuk orang2 yg menentang ajaran Nabi Isa as, karena tidak semua anak dan istri seorang Nabi termasuk pendukung/beriman. Anak dan istri Nabi Nuh as, Nabi Luth as, termasuk orang2 yg menentang ajaran yg dibawa oleh suami/ayah mereka.

Lebih dari 20 tahun aku belajar Al Qur’an, baik terjemahan dan tafsirnya, termasuk juga belajar hadits, belum pernah aku mendapatkan informasi (yg cukup detil) mengenai kehidupan Nabi Isa as, melainkan apa yg telah dituliskan. Dimulai dari proses mengandungnya Siti Maryam (ibunda Nabi Isa as) secara ajaib, karena dalam riwayat versi Islam beliau ini TIDAK PERNAH DISENTUH (APALAGI BERHUBUNGAN BADAN) DENGAN LELAKI, sebagaimana tercantum di surat Maryam(19):19-22,“Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”. — Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!“– Jibril berkata: “Demikianlah. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.” — Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.”

Kemudian keajaiban Nabi Isa as saat mampu berbicara dan berdebat, meski beliau masih di dalam buaian ibundanya. ALLOH SWT memberikan keajaiban ini sebagai jawaban atas tuduhan2 yg dilontarkan orang2 kepada ibundanya, yakni tuduhan berbuat zina. Maryam(19):27-36,“Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. — Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”, — maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?” — Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. — dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; — dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. — Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”. — Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. — Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia. — Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.”

Pada ayat di atas, Nabi Isa juga sudah MENEGASKAN BAHWA DIRINYA BUKANLAH ANAK ALLOH SWT. Demikianlah Al Qur’an menjelaskan posisi Nabi Isa as, yakni HANYA SEBAGAI UTUSAN ALLOH SWT, bukan sebagai anak-Nya.

Beberapa fragmen kehidupan Nabi Isa bisa dilihat di artikel mu’jizat yg pernah aku tulis.

Adapun pada ayat di atas juga, Nabi Isa as menegaskan bahwa dirinya akan dibangkitkan lagi (berdasar hadits Rasululloh SAW, Nabi Isa as akan turun menjelang hari Kiamat tiba).

Sementara itu, di bagian hadits, aku juga tidak temukan ucapan Rasululloh SAW (yg cukup detail) tentang kehidupan nabi Isa as.

Akhirnya aku bertemu dengan seseorang (hmm…katakanlah mas R) yg menjelaskan apa yg dia ketahui tentang Nabi Isa as, dari ilmu dan referensi2 yg dia punyai. Dia sebutkan bahwa secara agama (Islam), memang tidak ditemukan bukti-bukti otentik bahwa Nabi Isa as telah menikah. Namun, jika ditelusuri dari kebudayaan yg ada pada saat itu, serta berdasar tulisan2 yg dia dapat (’gilanya’, dia juga menyertakan beberapa tulisan di Da Vinci Code sebagai sumber informasi, karena menurutnya ada beberapa tulisan di situ yg bisa dipercaya, termasuk keterangan Nabi Isa as menikah dg Maria Magdalena).

Nah, mas R ini menyebutkan dari tulisan dan dokumen2 lain yg dia dapatkan dan pernah dia pelajari, secara TIDAK LANGSUNG menyatakan bahwa Nabi Isa as sudah menikah.
1. Dalam jamuan makan terakhir, seperti yg dilukis oleh Michael Angelo(atau Leonardo Da Vinci?), ada narasi yg menyebutkan Nabi Isa menuangkan anggur ke gelas. Menurut mas R, kala itu hanya orang yg sudah menikah yg boleh menuang anggur.
2. Nabi Isa as dianggap sebagai raja oleh para pengikutnya. Ungkapan dan jabatan raja, sama halnya poin 1, hanya diberikan kepada orang2 yg sudah menikah.

Lebih kurang 1-2 minggu, aku berusaha mencari referensi tambahan sebagai penguat dari cerita mas R, terutama referensi dari ulama2 yg, ehm, bisa dipercaya. Hasilnya, NOL BESAR. Sama sekali tidak ditemukan adanya informasi (baru) mengenai kehidupan Nabi Isa as.

Di hari kesekian, aku akhirnya mencapai satu titik…di mana aku akhirnya hanya ‘berserah’ kepada ALLOH SWT mengenai kehidupan Nabi Isa as. Apakah beliau menikah, mempunyai anak, dst dst…itu adalah urusan ALLOH SWT. Sebagai seorang muslim, aku ‘hanya bertugas’ mengimani Nabi Isa as sebagai salah satu utusan-Nya. ‘Kekritisan’ yg sempat muncul di benakku tentang kehidupan (pribadi) Nabi Isa as sesungguhnya (bagiku kini) adalah sebuah ‘kesia-siaan’ (meski sebenarnya tidak sia-sia, karena dari situ akhirnya ilmuku bertambah).

Mengapa kita mesti meributkan kehidupan pribadi Nabi? Sudah jelas beliau utusan ALLOH SWT, tentu banyak sekali tujuan dan maksud ALLOH SWT yg seringkali tidak bisa kita pahami, dari setiap tindakan dan perilaku Nabi-Nabi-Nya itu.

Tentu saja, hal ini bukan berarti ALLOH SWT melarang kita menggunakan akal kita untuk berpikir tentang ciptaan-Nya. Namun, nampaknya akal tidak akan bisa menjangkau daerah keimanan, sebuah daerah yg seringkali akal dan logika tidak akan bisa memahami. Hanya kebersihan dan mata hati yg terbuka-lah yg bisa mengerti secara menyeluruh.

Akhir kata…semoga tulisan ini cukup menarik dan bisa membangkitkan daya kritis kita..